Catatan Editor

STOP ! Menipu Hewan Laut dengan Memberi Makan Plastik

Dengan gerak yang gemulai seekor Pari Manta mengibaskan siripnya menyelami perairan dangkal di lepas pantai Bali buat mencari makan. Pemandangan alami itu adalah salah satu alasan kenapa penyelam berbondong-bondong menyambangi Indonesia, termasuk Lauren Jubb yang berasal dari Australia. Namun bukan surga bawah laut yang dia rekam, melainkan neraka plastik yang perlahan membunuh satwa dan terumbu karang.

Selaih itu, program lingkungan PBB, UNEP, menaksir setiap tahun sekitar tujuh juta ton sampah plastik mencemari samudera Bumi. Sampah itu sulit terurai, cuma lumat menjadi potongan kecil yang dimakan ikan atau burung dan menyusup dalam rantai makanan. Tidak terhitung berapa jumlah satwa yang pernah menjadi korban, atau terancam oleh pencemaran laut oleh manusia.

Sedihnya…….hal ini tentu saja sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini ? kalo bukan kita yang memulainya lalu siapa lagi ? Di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, warga yang tertangkap membuang sampah di sungai dapat didenda hingga maksimal Rp 50 juta dan hukuman kurungan tiga bulan. Namun, hingga saat ini, efektivitas program maupun aturan semacam itu masih dipertanyakan.

Cara satu-satunya adalah kesadaran dari indvidu masing-masing untuk mengurangi plastik. Kini di supermarket sudah banyak yang tidak menyediakan plastik gratisan, melainkan harus membayar lagi untuk memakainya. Sama halnya dengan mengurangi sedotan plastik dan menggantinya dengan kayu atau besi.
Nah ! tinggal kamu yang sadar diri. Bawa kantong belanjaan sendiri di rumah bila ingin belanja. Atau selalu menyediakan sedotan kayu di tas dan membawanya kemanapun kamu pergi. Bila 1 juta orang melakukan hal ini, makanya kita akan menyelamatkan 1 juta lebih satwa.
Sederhana kan…..yuk mulai sekarang juga !

Canti Sari

Pemimpin Redaksi