Catatan Editor

ETIKA

Etika yang diambil dari Yunani Kuno, ethikos, memiliki arti timbul dari kebiasaan, adalah sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.

Etika bisa dibilang suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

Yang akan dibahas di bulan Juni 2018 kali ini, adalah etika di kehidupan sosial dan juga media sosial yang makin lama makan memberi efek negatif.  Bahkan Pemerintah pun sampai memberlakukan UU ITE terhadap pengguna sosial media yang membandel terutama jempolnya susah dikontrol. Mulai dari menyebarkan fitnah, berita hoax dan provokasi. Ganjarannya cukup membuat pelakunya jera, misalnya paginya melanggar UU ITE, malamnya harus tidur di dinginnya lantai penjara hanya karena jempolnya yang latah.

Memang sosial media seakan memberi sekat akan dunia nyata yang semakin menjauh. Banyak orang tak merasa diperhatikan atau malah menjauhkan dirinya dengan dunia nyata, ia kemudian menjadikan dunia maya sebagai dunianya sebenarnya. Kurangnya perhatian dari orang sekitar  bisa dari teman dan keluarga jelas membuat sebahagian orang mencari dunia lain yang lebih diperhatikan. Salah satunya yang paling gampang saat ini adalah via sosial media.

Bukan hal yang aneh saat banyak orang yang curhat dan marah-marah tak jelas tujuannya mendapatkan empati atau perhatian dari orang lain. Apakah berhasil ? hati-hati loh ! curhat di sosial media malah bisa membuat orang lain yang belum kenal dengan kamu bisa berpikir buruk. Sekarang sosial media ibarat portofolio seseorang di dunia maya, orang yang baru mengenal kamu di dunia maya akan lebih banyak menilai dari sosial media.

Bahkan perusahaan saat ini menilai aktivitas karyawan baru dari gelagatnya di dunia maya. Mereka tak mau menerima karyawan yang doyan ngedumel di sosial media. Atau  terlalu aktif di sosial media juga punya kesan tak baik, kecuali kamu memang bekerja di bidang tersebut. Setiap saat update status, update stories, hingga swafotonya hingga memenuhi timeline. Orang lain akan menganggap hidupmu begitu membosankan dan lebih parah dianggap sebagai pengangguran karena tak ada kerjaan. Niat eksis malah dianggap narsis dan kegiatan di dunia nyata jadi terbengkalai.

Nah ! bagaimana menurut kamu ? apakah etika tetap perlu di sosial media ? semuanya ini akan itjeher.com sajikan selama bulan Juni tentang bagaimana berperilaku pintar dan beretika di sosial media, sehingga dapat membuat kehidupan sosial kamu menjadi lebih menguntungkan dan tentunya lebih baik.

“ You are responsible for everything you post and everything you post will be a reflection of you ” – Germany Kent

Canti Sari

Pemimpin Redaksi