Catatan Editor

KULINER ASIA

Di bulan Februari ini, salah satu budaya baru yang ramai diminati oleh khalayak ramai khususnya di Jakarta adalah jajan kuliner Asia atau peranakan. Masakan Peranakan atau disebut Masakan Nyonya menggabungkan pengaruh Tionghoa, Melayu, India, Jawa, dan lainnya menjadi perpaduan yang unik.

Asalnya adalah makanan sembahyangan, yaitu suguhan kepada nenek moyang pada hari-hari tertentu. Itupun berbeda antara daerah satu dari daerah lain, antara satu keluarga dengan keluarga lain.  Dan di Indonesia sendiri, makanan ini dibawa oleh pendatang cina yang datang tanpa istri dan menikah dengan wanita pribumi, maka selera dan kebiasaan masak istri mereka mempengaruhi juga hidangan yang mereka makan.

Terciptalah banyak makanan yang merupakan penyesuaian makanan China dari berbagai daerah dengan bahan, selera, dan cara masak setempat. Anak-anak mereka yang disebut China atau Tionghoa Peranakan, belum pernah mengecap makanan asli China. Mereka terbiasa dengan makanan China yang sudah disesuaikan itu yang lama-kelamaan disebut masakan China Peranakan.

Banyak restoran di Jakarta yang menawarkan kuliner peranakan ini. Salah satunya Meradelima. Meradelima hadir dengan kuliner khas peranakan yang dipengaruhi cita rasa Cina, Melayu, dan Arab. Menurut pemiliknya, sejak berdiri pada tahun 1621, perkembangan kota Jakarta tak bisa dilepaskan dari keberadaan masyarakat Tionghoa yang ramai berbisnis di Jakarta, terutama untuk berdagang. Tak hanya berdagang, masyarakat Tionghoa juga meninggalkan warisan berupa kuliner peranakan yang mampu memanjakan lidah. Hingga kini, kuliner kuno ini masih dapat ditemui di Meradelima, restoran fine-dining di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini.

Tidak hanya restoran, jajanan pinggir jalan di sekitar Batu Ceper sampai Alun-alun Kota Tua juga wajib kamu kunjungi. Misalnya, Warung Entjiem Lauw’Tan, Jalan Batu Ceper No 7, menggunakan rumah tua yang didesain mirip kediaman orang Tionghoa di zaman kuno, menyajikan masakan Peranakan rumahan seperti nasi goreng bungkus kulit lumpia dan nasi bakar isi teri.

Jadi apakah makanan Peranakan bisa dibilang hidangan Nusantara ?

Makanan bagi warga Tionghoa adalah utama, termasuk bagi mereka yang merantau ke Nusantara. Usaha membuat makanan yang serupa dengan daerah asalnya terkendala karena beberapa bahan tidak ditemui di daerah ini. Akhirnya, mereka berkreasi.

Menurut Joseph “Aji” Chen, wakil koordinator Dewan Pakar Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina), para perantau yang pergi ke negeri selatan beradaptasi dengan bahan makanan yang ada, bahkan memunculkan kreasi baru.

“Para pendatang membuat tahu, kembang tahu, mie, bihun, soun, tauco, kecap seraya memanfaatkan bahan-bahan setempat,” tulis Helen Ishwara dalam Peranakan Tionghoa Indonesia, Sebuah Perjalanan Budaya.

Gabungan teknik dan penyesuaian bahan menciptakan beragam kuliner baru yang sebelumnya tak pernah ada. Dan ini yang disebut sebagai makanan Peranakan Nusantara. Lontong cap go meh salah satunya. Lontong ini, kata Joseph, menggantikan sajian resmi di negeri asal yaitu ronde atau yuanxiao. Potongan lontong yang bundar melambangkan bulan purnama dan warna putih simbol kebersihan hati.
Ketika lontong cap go meh disajkan, terdapat menu ayam opor dengan kuah santan kuning atau putih. “Kuliner peranakan tidak dapat menghindari pemakaian santan. Karakteristiknya yang unik (rich and tasty) memberikan kekhasan luar biasa dalam sebuah sajian,” ujar Joseph.
Sehingga beragam hasil bumi di Nusantara ini tidak hanya menjadi bumbu yang melezatkan namun juga membuat ciri khas makanan pendatang menjadi lebih istimewa.

Canti Sari

Pemimpin Redaksi