Artikel Terbaru

Gangguan Dismorfik Tubuh yang Menyerang Perempuan Zaman Sekarang

Ada sebuah kelainan psikologis pada tubuh yang belakangan menjadi topik diantara perempuan modern. Gangguan ini disebut gangguan dismorfik tubuh yang diperkenalkan psychopathologist dari Italia, Enrique Morselli dan sudah tercantum dalam Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder.

Gangguan dismorfik tubuh, atau dikenal sebagai body dysmorphic disorder merujuk pada kondisi psikologis seseorang yang merasa tidak percaya diri dengan tubuh mereka.

Yang mengalami gangguan ini biasanya cemas dengan penampilan fisiknya dan berpikir bahwa tubuh menginap kelainan tertentu. Apa yang dipikirkan ini bisa saja memang nyata, atau hanya imajinasi pasien belaka.

Di era media sosial dimana semua orang jadi sangat terbuka dengan kehidupan pribadinya, ruang untuk bebas berkomentar jadi terbuka lebar. Tak jarang apa yang diunggah di media sosial malah mengundang komentar tak bertanggung jawab soal bentuk tubuh yang tidak pantas. Komentar menyakitkan yang biasa juga disebut sebagai “body shaming” ini bisa menimbulkan rasa tidak aman pada diri sendiri

Penyakit yang biasanya menjangkiti seseorang saat masa pubertas, hingga seumur hidup ini sering jadi alasan mengapa seseorang bisa sangat kecanduan dengan operasi plastik dan tidak pernah merasa puas dengan penampilannya.

Kelainan ini bisa muncul karena konsep diri negatif dan perasaan takut tersingkir dari kehidupan sosial, sessuatu yang menjadi kebutuhan gaya hidup masyarakat urban zaman sekarang. Perasaan sensitif kemudian berkembang semakin besar sehingga merasa perlu untuk terus memperhatikan penampilan dengan berlebihan.

Ternyata sudah ada beberapa selebrita manca negara yang mengaku didiagnosa penyakit ini, diantaranya Tallulah Willis anak pasangan Demi Moore dan Bruce Willis bahkan Kim Karhdashian. Bahkan di berbagai unggahan media sosial yang begitu percaya diri, pribadi-pribadi ini akhirnya ‘rontok’ juga dengan komentar negatif yang terlalu bertubi-tubi.

Jika kelainan ini sudah sampai dalam taraf yang serius, obat-obatan harus berperan dalam penyembuhannya. Resep yang biasa digunakan untuk menangani depresi biasanya jadi jawaban. Sayangnya, obat-obatan seperti ini tak jarang menimbulkan banyak reaksi negatif ketika dikonsumsi terlalu lama.

Mengatasi pikiran negatif ini pun harus mulai dibimbing oleh ahli. Apalagi jika nasehat orang terdekat sudah tidak bisa lagi diterima oleh hati yang merasa tertutup. Pola pikir positif bisa secara berangsur-angsur disembuhkan dengan psikoterapi rutin.

Diantara semua itu, cara mengatasi yang paling penting adalah mendapat dukungan keluarga. Sebagai lingkungan paling dekat, saran dari keluarga bisa jadi senjata ampuh yang menguatkan.

Untuk menghindari kelainan ini, mulailah untuk selalu memberi filter pada komentar di media sosial dan tak terlalu memikirkannya. Percaya bahwa diri sendiri memiliki manfaat bagi masyarakat banyak, dan bisa bernilai lebih dari hanya sekedar penampilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *