Jakarta Tanpa Sedotan untuk Masa Depan Anak Indonesia

0
1195

Sampah plastik yang mencemarkan lautan Indonesia khususnya, harus menjadi perhatian banyak masyarakat.  Bahkan dari hal yang kecil sekalipun seperti sedotan, menurut Data Divers Clean Action, menjadi  “penyumbang” terbesar yaitu 93.244.847 batang per harinya.

Label mode tanah air, NES, mengajak Gerakan Indonesia Bersih (GIB) bersama-sama melakukan kegiatan yang berhubungan dengan masalah dunia ini. Salah satunya, mengadakan kampanye ‘Jakarta Tanpa Sedotan’ (JTS) yang merupakan sebuah aksi untuk menyadarkan seluruh lapisan masyarakat untuk mulai membiasakan minum tanpa sedotan.

BACA JUGA :

Hari Lingkungan Hidup Sedunia Mengusung Aksi Melawan Sampah Plastik

Belanja di Cleanomic untuk Kurangi Sampah Plastik

Jumpa Pers di Alun-Alun Jakarta. itjeher.com.

Gerakan ini diawali dengan acara jumpa pers pada tanggal 15 Agustus 2018 kemarin di Alun-Alun, Grand Indonesia, Jakarta, yang menghadirkan beberapa pembicara yaitu Helen Dewi Kirana sebagai fashion desainer NES, Dr Amaranila Lalita Drijono yang merupakan pendiri Gemass Indonesia Community serta Diah Bisono sebagai Direktur Saji Indonesia.

Dr Amaranila Lalita Drijono, mengaku mendukung gerakan tersebut untuk masa depan anak-anak Indonesia. Ancaman sampah, terutama yang disumbangkan oleh masifnya pemakaian sedotan, harus dijadikan perhatian serius masyarakat Jakarta.  “Kenapa sedotan, karena kita tahu ini adalah soal serius. Plastik itu dari yang paling besar sampai nano plastic itu membahayakan semua mahluk. Ikan-ikan tercemar, berbahaya buat anak-anak kita yang mengonsumsinya dan ini sudah tidak bisa dibiarkan,” ujar pendiri gerakan Bersih Nyok ini.

Diah Bisono yang dikenal sebagai salah satu perempuan Indonesia yang aktif dalam kegiatan alam bebas, juga menambahkan bahwa peran traveller atau wisatawan saat ini sangat dibutuhkan untuk ikut mengurangi sampah. “Jangan heran, mulai sedotan, styrofoam, atau kantong plastik itu paling banyak ditemukan setiap kami melakukan aksi bersih-bersih pantai. Aksi tanpa sedotan kali ini bukan soal kuantitas, tapi perlahan akan merambah menjadi besar karena semua seharusnya khawatir dengan sampah-sampah ini,” kata Diah.

Untuk itu, kampanye ini akan dilanjutkan dengan karnaval JTS di kawasan Kemang pada tanggal 16 September 2018 mendatang. Dan Helen Dewi Kirana selaku penyelenggara juga mengharapkan kerjasama semua pihak, baik dari penjual minuman atau konsumennya untuk mengubah perilaku menghilangkan kebiasaan memakai sedotan.  “Tidak akan ada orang Jakarta yang sakit, apalagi sampai mati, gara-gara minum air tanpa sedotan,”  ujar Helen.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here