Desa Wae Rebo, Surga Di Atas Awan

Kita sebagai masyarakat Indonesia patut bangga, karena Desa Wae Rebo di Flores, NTT, telah menerima penghargaan Cultural Heritage Conservation dari UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards. Desa yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini layaknya sebuah surga yang berada di atas awan. Penduduk yang ramah, udara yang sejuk, kabut mistis yang muncul sebelum matahari terbit, serta kehidupan masyarakatnya yang sederhana membuatnya menjadi destinasi wisata yang menyenangkan.

Foto : instagram/saptorachmadi

Wae Rebo merupakan bagian dari Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores. Tempat ini mendapat julukan “kampung di atas awan” karena letaknya yang tinggi di atas gunung. Jarak tempuh menuju ke sana cukup jauh dan diperlukan perjuangan tersendiri karena ada jarak 7 km yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau mendaki selama kurang lebih 4 jam. Namun, perjuangan ini akan terbayarkan ketika kita dapat melihat pemandangan alam di sana yang begitu indah dan istimewa.

Rumah adat di Wae Rebo disebut Mbaru Niang dan memiliki ciri khas beratap ijuk kerucut dengan diameter sekitar 11–15 meter. Mbaru Niang terdiri dari 7 rumah yang masing-masing dihuni oleh 6–7 keluarga atau sekitar 30 orang. Rumahnya dibangun dari balok dan papan kayu yang diikat secara alami tanpa pasir, semen, atau paku.

Sehari-harinya warga Wae Rebo bekerja sebagai petani kopi, pengrajin kain tenun cura, serta berkebun sayur-mayur. Wisatawan yang berkunjung dapat mengikuti kegiatan yang mereka lakukan, seperti memetik kopi langsung di kebunnya, menumbuk kopi, atau menenun kerajinan kain cura yang biasanya dilakukan di depan rumah. Para wisatawan juga diajak menginap di rumah Mbaru Niang yang beralaskan tikar yang dianyam dari daun pandan. Para penduduk Wae Rebo akan berbagi cerita tentang pengalaman hidup keluarga besar Wae Rebo yang masih sangat kental dengan tradisi.

Foto : instagram/melghui

Salah satu tradisinya adalah para tamu di Wae Rebo harus berbusana yang sopan dan mengikuti adat di sana. Kaum perempuan tidak diperkenankan memakai atasan dan bawahan yang terlalu terbuka seperti celana pendek atau tank top karena akan membuat warga masyarakat di sana menjadi risih. Para pengunjung juga tidak boleh menunjukkan kemesraan, baik dengan lawan jenis maupun teman sejenis, seperti berpegangan tangan, berpelukan, atau berciuman meskipun yang melakukannya sudah berstatus suami-istri. Hal lain yang perlu dihindari adalah mengumpat atau memaki selama berada di kampung ini. Para tamu juga diharuskan melepaskan alas kaki ketika masuk ke dalam rumah.

Penasaran, ‘kan? Nah, mulai sekarang, masukkan Desa Wae Rebo ke dalam daftar destinasi liburan kamu. Kalau bukan kamu yang melestarikan kebudayaan tanah air Indonesia, lalu siapa lagi?

foto : instagram/Walberto_25
More Stories
Tempat Ngopi Baru Di Jakarta Selatan