TIGA NEGERI Kebinekaan dalam Sehelai Wastra

“Orang Indonesia itu bukan orang yang penuh dengan kemarahan. Masyarakat Indonesia ada karena kebinekaannya. Baru belakangan ini saya merasakan betapa situasi dipenuhi dengan ketegangan, dan masyarakatnya bisa terpecah belah, hanya karena perbedaan yang sudah lama kita miliki.”

Suara Edward Hutabarat memecah ruangan. Sorot matanya tajam dan nadanya menggema penuh semangat saat ditanya mengenai latar belakang pameran Tiga Negeri yang diprakarsainya bersama dua perancang Indonesia lainnya, yaitu Didi Budiardjo dan Adrian Gan. Bukan tanpa alasan ia begitu vokal dan terlihat berapi-api. Di acara yang memamerkan koleksi pribadi berupa kain, perhiasan, dan perabotan dengan sentuhan peranakan milik ketiga desainer itu, Edward menceritakan bahwa di sepanjang perjalanan kariernya selama lebih dari dua dekade, belum ada yang bisa melampaui keunikan wastra nusantara. Sayangnya, budaya Indonesia yang terkenal sangat berwarna ini malah terancam oleh suara-suara egois yang ingin memaksakan kepentingan pribadinya semata.

 

Tiga Negeri sebagai judul pameran diadopsi langsung dari nama wastra yang dipamerkan, yaitu batik Tiga Negeri, dan karena otak di balik pameran tersebut adalah tiga perancang mode. Batik Tiga Negeri memang memiliki keistimewaan tersendiri. Pembuatannya dilakukan di tiga kota, yaitu Solo, Lasem, dan Pekalongan. Dahulu, pada zaman kolonial, ketiga wilayah tersebut memang berada dalam otonomi sama yang disebut negeri. Di Solo, setelah batik diberi warna sogan atau cokelat, batik dibawa ke Lasem untuk diwarnai merah, warna khas etnis Tionghoa yang mendominasi wilayah Lasem. Setelah itu, batik dibawa ke Pekalongan untuk diwarnai biru. Jarak di antara ketiga kota yang sangat jauh, apalagi transportasi pada era 1920-an masih sangat terbatas, membuat nilai kainnya semakin berharga.

Didi Budiardjo menambahkan bahwa, konon di Tatar Sunda, pernikahan bisa batal jika pihak calon mempelai pria tidak memberikan kain Tiga Negeri kepada pihak perempuan. Selain itu, kain ini juga dipercaya memiliki kekuatan magis. Setiap keluarga harus memilikinya untuk penyembuh jika ada anggota keluarga yang sakit. Caranya dengan merobek sedikit bagian kain untuk dibakar dan dicampur dengan air, lalu diminum oleh yang sakit. Niscaya si sakit akan sembuh.

Kisah singkat tentang hubungan di antara tiga kota tempat pembuatan batik Tiga Negeri ini cukup menggambarkan betapa harmonisnya kehidupan masyarakat kala itu. Tanpa memedulikan etnis atau keyakinan, sebuah mahakarya dapat tercipta dari kerja sama yang baik di antara para pembuatnya.

Edward Hutabarat juga mengingatkan bahwa seharusnya orang Indonesia bangga, karena kedatangan bangsa Tiongkok membuat warna budaya Indonesia semakin indah. Akulturasi yang terjadi di Indonesia murni menghasilkan budaya yang 100% Indonesia. Karena, walaupun di Indonesia orang menyebut batik Lasem sebagai batik peranakan, di dataran Tiongkok sendiri tidak akan ditemukan bentuk, warna, corak, dan kehalusan yang sama dengan yang diciptakan di tanah air kita.

Zeen is a next generation WordPress theme. It’s powerful, beautifully designed and comes with everything you need to engage your visitors and increase conversions.

More Stories
Melukis Kuku Lebih Tahan Lama dengan Nail Gel