Kebaya Encim yang Menjadi Simbol Perpaduan Dua Budaya

0
945

Kebaya nyonya atau yang biasa disebut kebaya encim merupakan kebaya hasil perpaduan budaya Jawa dengan Tionghoa. Kebaya ini seringkali dikenakan oleh wanita Tionghoa pada jaman kolonialisme Belanda.Kata encim sendiri merupakan serapan dari bahasa Tionghoa, yaitu ‘cici’, yang berarti kakak perempuan.

Meskipun kebaya sudah ada sejak pertama kali tercatat oleh Sir Thomas Stamford Bingley Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1817, yang juga menulis buku History of Java, kebaya telah mengalami akulturasi dengan berbagai budaya yang masuk. Salah satunya, perpaduan dengan budaya Tionghoa yang akhirnya menghasilkan kebaya encim tersebut.

Koleksi : Bin House. itjeher.com.
Koleksi : Bin House. itjeher.com.

Kala itu gelombang imigrasi penduduk Tionghoa ke tanah air meningkat dipicu oleh aktifnya perdagangan di segala bidang dari abad ke-15.Uniknya, para imigran Tionghoa yang datang ke Asia Tenggara (termasuk Indonesia) tidak membawa istri. Untuk mengobati kerinduan dan kebutuhannya, kebanyakan pria Tionghoa ini memperistri wanita dari penduduk pribumi setempat yang kala itu menggunakan kebaya sebagai busana sehari-hari. Wanita yang telah menikah dengan pria Tionghoa ini sering disebut ‘Nyai’.

BACA JUGA :

Kebaya Ferry Sunarto Di Moscow, Rusia

Ketika Batik & Lurik Berkolaborasi

Rahasia di Balik Batik Nusantara

Meski menikah dengan pria Tionghoa, para nyai ternyata tetap menggunakan kebaya sebagai busana sehari-hari. Bedanya, kebaya yang dikenakan setelah menikah memiliki bahan yang lebih halus dan mahal serta model yang merupakan perpaduan dari 2 budaya.

Koleksi : Erina Kebaya Luh Nandhi. itjeher.com.
Koleksi : Erina Kebaya Luh Nandhi. itjeher.com.

Seiring dengan perkembangan dan makin banyaknya pendatang serta pedagang dari Portugis serta Malaka, kebaya itu pun menjadi  makin ‘kaya’ dengan percampuran budaya dari dua daerah tersebut. Hal ini terlihat dari beberapa variasi dalam pemilihan bahan yang lebih ringan dan model yang lebih simpel sesuai  iklim tropis Indonesia. Tak mengherankan,  kebaya ini pun kemudian populer dan digemari oleh wanita peranakan Indo-Cina yang awalnya bermukim di pesisir Jawa, termasuk Jakarta (kala itu Batavia), kota-kota daerah pesisir, seperti Semarang, Lasem, Tuban, Surabaya, Pekalongan, dan Cirebon sejak akhir abad ke-19. Dari sini kemudian menyebar ke daerah Sumatra, Kalimantan, dan Bali dengan  penyesuaian motif dan corak.

Koleksi : Roemah Kebaya by Vielga. itjeher.com.
Koleksi : Roemah Kebaya by Vielga. itjeher.com.

Dan hingga kini, rumah mode dan desainer tanah air tetap merancang kebaya encim dengan modifikasi yang unik serta bervariasi. Seperti desainer senior Josephine W Komara atau Obin, selalu  menampilkan kebaya encim di setiap koleksi barunya. Bahkan busana perpaduan dua budaya ini dipadukan dengan kain batik yang kontemporer.

Selain itu, Roemah Kebaya dan Erina Kebaya juga membuat kebaya encim yang selalu tampil ramai warna dengan aplikasi bordir yang mewah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here