Transformasi Belanja Mode di Era Digital

0
892

Mungkin dahulu tak pernah terbayang, membeli baju dalam jumlah banyak hanya lewat layar hp lalu menunggu datang tanpa dicoba. Sekarang, belanja dengan cara seperti itu jadi kegiatan yang sangat biasa bahkan membuat adiktif.

Sejak internet mulai populer di Indonesia, kegiatan belanja daring alias belanja online pun meningkat pesat. Siapa yang tidak suka dengan kemudahan yang ditawarkannya. Tanpa harus repot berjalan jauh membandingkan model dan harga baju dari satu tempat ke tempat lain, kamu sudah bisa mendapat pilihan yang terbaik. Jejaring sosial media yang melekat di kehidupan setiap hari dari bangun hingga istirahat di tempat tidur juga membantu jutaan produk menawarkan dirinya langsung pada konsumennya.

Tapi ternyata, tren belanja online yang baru berkembang pesat 5 tahun belakangan ini di Indonesia sudah lebih dulu tercium oleh Shinta W. Dhanuwardoyo, CEO dan founder Bubu.com.

Bubu.com adalah salah satu pionir perusahaan digital di Indonesia yang bergerak dalam bidang internet, media sosial dan strategi digital dengan klien-klien seperti Facebook, Path, Unilever, Manchester United dan lainnya. Bubu.com sendiri telah dilahirkan tahun 1996, saat masyarakat Indonesia masih sangat awam dengan internet apalagi belanja online.

Di acara yang diadakan oleh World Fashion Connect di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia hari Rabu 2 Agustus 2017, Shinta memaparkan presentasinya yang berjudul “Membangun Startup Mengembangkan Bisnis Berbasis Teknologi”.

Dari 256,2 juta populasi di Indonesia, sebanyak 132,7 juta populasi adalah pengguna internet aktif, dan 24,74juta bertransaksi e-commerce. Data yang didapat dari We Are Social, Kominfo dan APJII menunjukkan betapa tanggap masyarakat Indonesia pada tren digital ini.

Sementara mode adalah salah satu sektor yang memegang peran utama. Industri mode yang mudah mendunia ini sangat sejalan dengan perkembangan teknologi, selain itu digitalisasi juga tentunya memudahkan desainer hingga produsen untuk menjual produk rancangannya hingga ke luar negeri.

Dengan segala kemudahan yang ditawarkan digitalisasi ini, bisnis mode jadi menghadapi tantangannya sendiri. Berbisnis lewat digital sudah pasti jadi ladang inspirasi, karenanya isu penjiplakan harus diwaspadai. Sekedar watermark di foto yang disebar di sosial media tak akan menghalangi sebuah label untuk tidak ditiru, karenanya menurut Shinta para desainer dan produsen harus  bisa lebih tanggap dan lebih serius mengeksekusi karya. Karena tidak akan ada yang bisa mengalahkan kesungguhan dan ide baru yang membuat entrepreneur selalu satu langkah lebih maju dari yang lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here