Maya Angelou : Perempuan Berpuisi yang Bersuara Minoritas

0
946
maya angelou itjeher.com

Di ulang tahunnya yang ke 90, penyair sekaligus penulis dan aktivis Maya Angelou diberi penghormatan oleh Google dengan menjadikan wajahnya sebagai Google Doodle pada 4 April 2018. Telah meninggal di tahun 2014 lalu, Maya meninggalkan jejak karya yang cemerlang dan membuka mata dunia.

Selama hidupnya dia menerima sangat banyak gelar kehormatan, penghargaan tersebut paling banyak diperoleh dari buku pertamanya yang berjudul I Know Why the Caged Bird Sings.Buku ini bercerita tentang masa kecilnya yang kelam di daerah rural bernama Jim Crow South. Ia dan kakak laki-lakinya telah melakukan perjalanan panjang hanya berdua saja dari Long Beach, California ke kediaman neneknya di Stamps, Ark. Perjalanan dilakukan ketika keduanya masih berusia 3 dan 4 tahun.

BACA JUGA :

Ready Player One : Film Laris Terbaru Karya Steven Spielberg

Big Bad Wolf : 280 Jam Nonstop Berburu Buku Murah

Film Terbaru Putri Marino berjudul Jelita Sejuba

Di usia sekecil itu, Maya Angelou sudah bisa mencuri dengar percakapan neneknya dan seorang polisi yang memberi peringatan untuk berdiam diri karena baru saja seorang pria berkulit hitam mendapat masalah dengan perempuan berkulit putih.

Dari percakapan kecil ini saja Maya mulai mereka-reka sendiri tentang keberadaan keluarganya yang minoritas dan tak bebas berpendapat serta harus selalu diam. Itu jadi titik tolak Maya Angelou untuk kemudian menentang diskriminasi dan tindakan yang menyinggung SARA yang kala itu tentu sangat sulit dilakukan, tentu saja dengan tambahan rentetan pengalaman lain yang harus menimpanya. Bukunya yang semakin banyak dibaca lalu membuatnya semakin gencar menyuarakan perdamaian bagi seluruh penduduk di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here