Mencintai Perbedaan di Pertunjukan Teatrikal Senandika

1
564

Perbedaan yang dulu jadi kekuatan, sekarang malah sering jadi alasan untuk mengkotak-kotakan manusia. Padahal di negara kepulauan dengan luas lebih dari 1.000 miliar kilometer persegi,rasanya mustahil jika Indonesia harus memiliki masyarakat yang seragam. Tak perlu berbicara budaya orang yang berada di seberang pulau, keluar dari rumah dengan jarak hanya beberapa meter saja, sangat mungkin ditemui perbedaan yang asing.

Ketika berbagai isu tentang perbedaan ini semakin menggema, semakin ricuh pula opini mengalir di masyarakat. Di negara yang masih terus berusaha untuk menyempurnakan demokrasinya, tentu suara vokal  diperlukan dan patut diapresiasi. Tapi kadang yang menakutkan adalah bagaimana opini ini berebut untuk dipercayai sebagai kebenaran yang tunggal. Yang terjadi adalah setiap pendapat diyakini sebagai yang paling benar dan harus diamini oleh semua masyarakat tanpa terkecuali.

Dengan keadaan seperti ini, bertumbuh di zaman sekarang jadi terasa lebih berat. Situasi inilah yang kemudian membuat Poemuse tergerak menyajikan pertunjukan seni panggung berjudul Senandika.

Senandika menceritakan bagaimana sulitnya menjadi diri sendiri di tengah arus argumentasi dan opini yang begitu deras mengalir dari luar. Pertunjukan ini disuguhkan dalam bentuk musik teatrikal yang terinspirasi oleh karya musik komposer Indonesia yang menggarap sastra dalam bentuk musik.

Foto : Instagram/laughonthefloor

Pertunjukan digelar di Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung pada Minggu lalu, 14 Mei 2017. Di panggung ini ada puisi karya penyair tanah air ditampilkan, berpadu dengan musik dan tarian lengkap dengan olah vokalnya.

Beberapa puisi yang menjadi bagian pagelaran ini diantaranya Sajak Kecil tentang Cinta karya Sapardi Djoko Damono, Sajak Bumi Hijau karya WS Rendra, Meninggalkan Kandang karya Eka Budianta, hingga Melihat Api Bekerja karya Aan Mansyur.

Foto : Instagram/laughonthefloor

Senandika disutradarai oleh Kennya Rinonce yang merupakan bagian dari Poemuse. Tarian yang mengiringi pentas adalah Galuh Pangesti. Setelah sukses tampil di IFI Bandung, Poemuse lantas terbang ke Makassar untuk mengisi Makassar International Writers Festival 2017 yang bertempat di Fort Rooterdam.

Di tengah kebingungan untuk bersuara di zaman sekarang, mengeluarkan pendapat akan lebih baik jika dibarengi dengan pengetahuan. Jangan asal mengeluarkan kata-kata gegabah yang bisa menjadi pedang yang menyakiti. Sejalan dengan itu, toleransi dan rasa saling mengerti juga dibutuhkan, jangan gampang sakit dengan pendapat orang. Terima informasi dengan mencernanya terlebih dahulu secara logis. Jika sudah terlanjur tersesat, mengingat nasehat yang dibalut dalam bahasa sastra yang indah seperti puisi dan seni, bisa jadi jawaban yang mengingatkan kembali untuk membuka cakrawala berpikir.

Foto : Instagram/laughonthefloor

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here