Kisah Putri Kerajaan yang Tak Selalu Berakhir Bahagia

0
273

Putri kerajaan yang sering kamu baca dalam kisah fiksi, kebanyakan memiliki cerita yang klise. Yang paling sering didengar adalah cerita tentang bagaimana sang putri dikisahkan hidup sengsara, lalu berhasil bertemu pangeran pujaan hingga akhirnya berakhir bahagia. Ternyata tak selalu demikian halnya dengan putri yang berasal dari cerita rakyat di Indonesia.

Beberapa kisah banyak yang menceritakan jalan hidup tragis bagi putri yang memiliki segalanya, termasuk paras cantik jelita, dan kekuasan.

Putri-putri yang banyak berasal dari cerita rakyat ini, sering dikisahkan sebagai bagian dari asal usul daerah tertentu. Walau kisahnya banyak yang tak berakhir bahagia, namun tentu kaya akan pesan moral.

  1. Putri Mandalika

Putri Mandalika berasal dari pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di salah satu sudut pulau yang terkenal keindahan alamnya ini, terdapat patung seorang puteri yang seperti akan terjun dari ujung tebing. Alkisah di sebuah kerajaan Lombok, terdapat putri dengan paras yang sangat cantik bersama Putri Mandalika. Tak hanya paris cantik, namun budi pekertinya pun baik, tak heran semua pangeran dari kerajaan tetangga datang untuk memperebutkannya. Raja tak bisa memilih dan menyerahkan keputusan pada sang Putri. Setelah bersemedi, Putri Mandalika mengumpulkan semua pemuda yang akan melamarnya di ujung tebing, lalu secara tiba-tiba ia loncat dari ujung tebing tersebut. Bagi sang putri, lebih baik ia berkorban daripada harus menikah dengan salah satu pangeran dan menyebabkan perpecahan atau perang.

  1. Putri Gilang Rukmini

Sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan memiliki Raja bernama Prabu Suartalaya yang tak kunjung memiliki ketrunan. Setelah bersemedi, ia dikarunia seorang Putri yang sangat cantik lalu diberi nama Putri Gilang Rukmini. Walau cantik, putri ini memiliki perangai yang kasar dan semena-mena pada rakyatnya, walau demikian ia tetap disayangi. Di hari ulang tahunnya yang ke-17, rakyat bersepakat memberi hadiah berupa kalung dengan permata berwarna-warni pada putri. Kalung itu dibeli dengan mengumpulkan biaya pembuatan dari rakyat untuk dibuatkan kalung pada pandai emas terbaik kerajaan. Saat menerimanya, putri bukannya senang, malah berlaku kasar pada pemberinya. Ia menolak kalung tersebut dengan alasan bentuknya yang tak indah. Raja yang terkejut meluapkan kesedihannya dengan menangis. Air mata raja menenggelamkan kerajaan, dan berubah menjadi sebuah danau yang sangat indah bernama Telaga Warna.

  1. Putri Tujuh

Tujuh bukanlah nama seorang putri, namun di Dumai, Riau, ada legenda mengenai 7 anak putri Raja yang cantik-cantik, yang paling memikat adalah si bungsu bernama Mayang Sari. Saat mereka mandi di sungai, Pangeran Empang Kuala yang kebetulan lewat kagum dan langsung memerintahkan utusannya pergi ke Kerajaan Seri Bunga Tanjung untuk meminang Putri Mayang Sari. Namun, lamaran itu ditolak karena yang menikah haruslah putri tertua terlebih dahulu. Pangeran yang murka lalu menyerbu kerajaan, dan timbul peperangan. Ketujuh puteri lalu diasingkan dengan dibekali makanan untuk tiga bulan. Karena perang berlangsung sangat lama, ketujuh putri ini akhirnya tiada akibat kelaparan. Setelah itu, daerah kerajaan yang mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan itu lalu diberi nama “Dumai”, dari kata-kata pangeran saat melihat Putri Mayang Sari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here