Bedanya Kali Kedua Art Stage Jakarta

0
1028

Setelah sukses dengan edisi pertamanya, kali kedua Art Stage kembali hadir di Jakarta. Bazaar seni ini kembali menghadirkan berbagai galeri terkemuka dari berbagai negara. Indonesia sebagai tuan rumah menyajikan 24 galeri, sementara 36 galeri lainnya dari beberapa negara seperti Australia, China, Prancis, GJerman, Hong Kong, Jepang, Malaysia, Belanda, Filipina, Rusia, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, Taiwan, Thailand dan Amerika.

Diadakan dari tanggal 11 hingga 13 Agustus di Sheraton Grand Jakarta, Gandaria City Art Stage tak hanya sekedar pagelaran seni 3 hari di dalam mall saja.

Sebelumnya Art Stage Jakarta menghadirkan Art Stage Jakarta Week diisi dengan berbagai acara seni. Mulai dari pameran solo hingga pameran grup dari beberapa seniman yang mengusung berbagai media, hadir untuk memeriahkan pekan seni ini.

Serunya, kali ini Art Stage juga menginisiasi Art Square yang diadakan di waktu yang sama, dengan lokasi yang masih berdekatan yaitu Atrium Gandaria City Mal. Area ini menghadirkan berbagai lembaga seni pendatang baru, lembaga non profit seperti sekolah begitupun seniman pendatang baru untuk memamerkan karyanya pada para penikmat seni. Nam-nama seperti Omni Space, Nasi Goreng Diplomacy, hingga Papermoon Puppert Theatre memamerkan sekaligus menawarkan alternatif koleksi karya seni dengan harga yang jauh berbeda dengan panggung utama Art Stage.

Selain itu, ada juga seniman graffiti Asia Tenggara dan Eropa : Europe Meets ASEAN di dalam program Off The Wall. Seniman yang berpartisipasi di dalamnya adalah Seth Globe, Great Bates, Chekos Art, Scope, Egg Fiasco, Farhan Siki, dan Tuyuloveme.

Yang berbeda juga, Art Stage mulai mengadakan ajang penghargaan bagi para pelaku seni Indonesia. Diberi nama Indonesian Award for Authenticity, Leadership, Excellence, Quality, Seriousness in Art, 13 kategori akan diberikan kepada ekosistem seni Indonesia.

Semakin baiknya kualitas art stage membuktikan bahwa para penyelenggara yang terlibat di dalamnya selain presiden Art Stage sendiri yaitu Lorenzo Rudolf semakin percaya diri dengan masa depan perkembangan seni di Indonesia. Baginya momentum ini harus dibuktikan dengan menunjukkan profesionalisme dan rasa percaya bahwa Indonesia pantas menjadi tuan rumah bagi pagelaran seni sebesar ini. Tak hanya berbicara besar dalam hal ukuran ruang pamer saja, namun juga pada konteks yang ditawarkan dan secara geografis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here