Memberi Nyawa pada Tubaba di Lampung

0
1303

Kabupaten Tulang Bawang Barat  atau biasa disebut Tubaba di Lampung berjarak 120 Km dari Ibukota Provinsi Bandar Lampung, dimekarkan pada tanggal 20 Maret 1997. Jadi bagian kabupaten yang memiliki wilayah terluas, 22% dari Provinsi Lampung membuat Tubaba diharapkan bisa berkembang dengan pesat.

Tubaba yang terletak di timur laut Lampung adalah sebuah pusat pemukiman transmigrasi provinsi. Ini dikarenakan sejak tahun 1910 sudah 5 juta jiwa orang dari pulau Jawa dan Bali bertransmigrasi ke Lampung. Perkembangan kota ke arah utara meningkat membuat area pemukiman bertumbuh secara sporadis di daerah di timur laut.

Keragaman budaya yang menjadi potensi besar Tubaba ini, bisa dikatakan hadir dari penduduknya yang mayoritas adalah transmigran.

Umar Ahmad, Bupati Tubaba kemudian menggandeng arsitek Andra Matin untuk membangun Tubaba dengan perencanaan yang matang. Proyek ini dimulai dengan dibangunnya masjid dan balai adat atau sesat. Hasilnya adalah sebuah masjid yang sangat ikonis bernama Baitul Sobur atau lebih dikenal dengan Masjid 99 Cahaya. Tak seperti masjid kebanyakan yang dibangun dengan simbol-simbol yang literal seperti dengan kubah atau bulan bintang, masjid ini menggunakan simbol yang lebih subtil. Misalnya saja ketinggian masjid adalah 30 meter sama dengan jumlah jus dalam Al Quran, dan bentuk menaranya segilima sesuai dengan jumlah rukun Islam. Selain itu untuk mencapai mesjid setelah berwudhu, harus melewati jalan setapak yang dihiasi 114 tiang, seperti jumlah surat dalam Al Quran. Tentu saja simbol terakhir adalah yang paling terkenal yaitu ada 99 titik masuk cahaya di langit-langitnya yang melambangkan 99 sifat Allah dari Asmaul Husna.

Di Pameran Membangun Tubaba yang berlangsung di Kopi Manyar, cafe dan galeri di kawasan Bintaro miliknya, Andra Matin kemudian memamerkan masterplan Tubaba secara keseluruhan. Selain masjid dan balai adat, akan ada museum seni kontemporer, pasar, sarana olahraga, sekolah hingga hotel kecil yang menjadikan Tubaba sebagai daerah destinasi. Di belakang kawasan tersebut, dibangun juga hutan lindung bernama Q-Forest.

Seluruh identitas budaya benar-benar digarap agar melesat, selain Andra Matin, seniman Hanafi juga ikut serta berkolaborasi untuk mengembangkan kebudayaan Tubaba. Nantinya, Tubaba akan menjadi sebuah kota seni dan sastra di Indonesia. Hanafi melatih 20 pelukis muda dari Tubaba dan merumuskan pola seni rupa baru. Semua hal di Tubaba nantinya akan dibenahi dan diberi nilai tambah agar semakin hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here