Artikel Terbaru

Suasana Ramadhan Di Negeri Orang

Selama bulan ramadhan, banyak kegiatan yang tidak ingin dilewatkan oleh seluruh umat islam. Antara lain terawih, malam takbiran sampai bersilaturahmi buka bersama. Bahkan kini, media sosial ramai dengan foto-foto kegiatan tersebut yang dilakukan bersama teman serta keluarga, dan menjadikan momen bahagia ini adalah saat yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Namun bagaimana dengan teman-teman kita yang tinggal di negeri orang jauh dengan keluarga dan teman ? tentunya hal ini menjadi kegiatan yang sangat dirindukan. Seperti cerita 3 teman itjeher.com yang akan berbagi pengalaman suka dan duka selama ramadhan disana.

Narizza Septianti – Paris

Tinggal di negeri orang, bukan hanya membuat rasa ‘homesick’ karena jauh dari teman, keluarga, tapi juga dengan adanya perubahan signifikan secara sosial dan kultural.

Hal ini makin nyata ketika bulan ramadhan tiba. Bila di Indonesia, suasana nya sangat terasa, terutama buat yang bekerja, kita bisa pulang lebih cepat, dan menikmati acara buka bersama teman dan keluarga, baik di rumah dengan menu buka sederhana sampai menu ‘kalap’ di restoran sambil reuni dengan teman-teman sekolah.

Sejak saya tinggal di Paris, Prancis, hal sederhana tapi penting tersebut yang membuat saya merasa rindu rumah. Kebetulan tahun-tahun awal saya di negara ini bulan ramadhan jatuh di musim panas (Agustus), dimana cuaca bisa mencapai 38-40 derajat (dan tidak banyak tempat publik yang menggunakan AC). Ditambah lagi, jam puasa yang panjang, antara 17 hingga 18.5 jam per hari nya (imsak pukul 3 pagi dan buka puasa pukul 21.45-22.30, tergantung tanggal) yang terasa cukup berat.

Musim panas yang artinya musim ‘festival’ dengan tukang es krim, atau granitas (es serut dengan sirop) dimana-mana. Dan tentunya tidak ada ketentuan bahwa restoran dan kafe untuk tutup usaha  di siang hari ya.

Tidak mudah menahan lapar apalagi menahan haus terutama di saat terjadi heatwave (hawa angin panas). Tidak ada toleransi untuk jam kerja, dan tetap kerja dengan jadwal biasa. Untunglah, kolega-kolega di kantor cukup toleran dan bahkan perhatian ketika saya berpuasa, tidak ada yang makan, minum, terutama minum kopi di depan saya. Atasan saya bahkan sudah bersiap dengan nomor darurat, kalau-kalau saya pingsan di kantor hahaha.  Jadi meskipun saya merasa sebagai kaum minoritas, tapi juga merasa dijaga oleh mereka yang mayoritas. Toleransi yang sebenar-benarnya.

Bila di Indonesia kita terbiasa dengan makanan cemilan dan minum teh manis atau es buah segar, disini menu berbuka adalah sup goulash dengan roti, kopi, susu, juga pisang atau apel.

 

Genny Azwar – Princeton New Jersey

Menjalani ibadah puasa di negeri yg bukan mayoritas islam tentunya cukup banyak tantangan, terutama untuk suami dan anak-anak saya yang selama puasa masih menjalankan rutinitas sekolah atau kerja bersama teman-temab yang tidak berpuasa. Yang juga terasa berat adalah waktu puasa yang cukup panjang, yaitu sekitar 16,5 hingga 17 jam.

Untuk mengantisipasi agar tidak terlalu berat untuk anak-anak khususnya, saya coba mempersiapkan kondisi mereka jauh hari sebelum bulan puasa di mulai, baik itu secara mental dan fisik mereka. Saya mencoba memberi pengertian  tentang makna puasa sehingga mereka tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus tapi mencintai bulan ramadhan itu sendiri.

Tantangan yg lain yaitu tentu saja menjalani bulan puasa jauh dari keluarga dan teman di tanah air. Namun saya bersyukur disini kami dikelilingi dengan teman dan tetangga muslim, baik itu orang Indonesia ataupun warna negara lain, jadi suasana ramadhan pun masih sangat terasa. Seperti misalnya budaya saling tukar makanan  berbuka dengan tetangga, mengaji tadarusan bersama  secara online dengan teman-teman Indonesia yg tinggal di sini. Kegiatan berbuka puasa biasanya dilakukan hanya akhir minggu saja, dikarenakan waktu berbuka sudah cukup malam yaitu pukul 08.30 malam.  Seringnya kami pergi ke rumah salah satu teman Indonesia atau  ikut serta dalam acara buka puasa di mesjid dekat rumah yang  dilanjutkan dengan sholat tarawih, anak-anak pun senang karena tarawih dengan teman-teman yang lain.

Dengan saya mengenakan hijab, banyak masyarakat disini yang tidak saya kenal seperti di pusat perbelanjaan atau tempat umum lainnya, mengucapkan selamat ramadhan kepada saya yang tentu saja membuat hati senang dan bersemangat. Sehingga selama kami disini walaupun jauh dari tanah air tapi tetap diberi kemudahan dan kenikmatan dalam menjalankan ibadah di bulan ramadhan.

Lia Anaduta – Melbourne, Australia

Hampir setiap bulan puasa disini sedang musim dingin. Dan waktu berbukanya lebih cepat dari di Indonesia yaitu jam 5 sore. Jadi rasanya tidak terlalu berat. Yang berbeda tentunya suasana yang tidak akan sama pada saat kita sedang berada di negeri sendiri. Disini semua kegiatan seperti biasa saja, waktu makan siang tetap ramai di mana-mana, namun untungnya, pada saat jam berbuka puasa, restoran disini sepi sehingga tidak perlu antri dan langsung dapat tempat duduk.

Tantangannya adalah pada saat anak-anak di sekolah. Karena hanya mereka yang berpuasa. Saya selalu menjelaskan kepada guru mereka bahwa mereka akan berpuasa selama 1 bulan penuh dan pada saat teman-teman lain makan siang, mereka hanya bisa membaca buku saja. Namun hal ini menjadi pembelajaran buat mereka. Dan lama-lama sudah menjadi rutinitas yang biasa saja.

Yang membuat kangen berbuka puasa di Indonesia adalah pada saat menunggu adzan maghrib di televisi. Karena otomatis kegiatan ini hilang dan anak-anak tidak pernah merasakan momen ini. Namun yang mereka tunggu-tunggu adalah pada saat shalat Idul Fitri yang selalu kami lakukan di community centre. Salam-salaman bersilaturahmi dengan sesama muslim atau sesama orang Indonesia dapat mengobati rasa rindu dengan keluarga di tanah air. Bila rindu makanan khas Idul Fitri seperti kue kering hingga ketupat lebaran, semua bahan sudah tersedia disini. Sehingga mudah memasaknya dan bisa dinikmati oleh anak-anak dan teman sesama muslim disini.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *