Tidak hanya makan dan minum yang harus ditahan, amarah juga wajib dikendalikan di bulan puasa. Sedangkan emosi dan perasaan marah bukanlah hal yang tidak normal.

Manusia terlahir dengan kemanusiaan, dan rasa marah termasuk di dalamnya. Termasuk kesedihan, ketakutan, atau rasa gembira dan rasa tenang.

Apalagi hidup di dunia yang modern dan penuh tekanan seperti sekarang ini. Sangat wajar jika ada kejadian yang terjadi dan memantik rasa marah setiap hari. Masalahnya, bisakah kita mengendalikan rasa marah di dalam diri. Karena bagaimanapun, amarah yang tertahan juga tak baik untuk diri sendiri. Lebih baik kamu coba cara ini!

  1. Hitung Sampai 100

Saat sedang marah biasanya tekanan darah akan naik seketika, namun bisa turun berangsur-angsur seiring dengan waktu. Orang yang sedang marah seperti terkena serangan yang membuat ingin mengeluarkan kata-kata yang tidak dipikirkan terlebih dahulu, setelah berkata-kata biasanya akan menyesal. Agar tak menyesal, hitung 1 hingga 100 sebelum melakukan apa-apa. Biasanya kemarahan akan reda dan kamu tidak jadi melakukan hal yang tidak diinginkan!

  1. Distraksi

Distraksi berpengaruh sangat kuat pada orang yang sedang marah. Kamu bisa segera melakukan kegiatan yang membuat pikiran teralih seperti berjalan jauh, bermain game, atau bahkan menggambar. Ini akan membuat kamu melupakan sejenak rasa marah, dan bisa mengembalikan emosi seperti semula.

  1. Pikirkan Penyebab

Saat marah, ada rasa sakit bahkan ketakutan yang dirasakan seseorang. Ketika itu juga otak menerima sinyal yang akan mengeluarkan adrenalin dan hormon stres. Nafas jadi lebih cepat, dan akan sulit berpikir dalam satu menit, tapi hanya butuh beberapa detik sampai berubah jadi kemarahan. Segera ingat-ingat penyebab kemarahan sebelum akhirnya memutuskan untuk marah. Konflik akan jadi sehat kalau kamu mencari tahu kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

  1. Tulis Perasaan

Menulis apa yang sedang dirasakan akan membantu mengeluarkan perasaan tanpa beresiko membuat emosi meledak karena sulit berkata-kata. Menulis melewati 2 proses, berpikir dan menulis. Sehingga saat sudah ditulis, kamu bisa membaca sekali lagi dan berpikir ulang. Kemarahan yang banyak bersifat tidak rasional pun jadi bisa lebih dimengerti.

  1. Memaafkan

Walau tidak segera melupakan kejadian yang menimpa, memaafkan seseorang akan membuat perasaan lebih lega. Dengan memaafkan kamu juga membuka ruang komunikasi, sehingga pikiran negatif tidak terus bertumpuk. Orang yang marah seringkali berpikir lama dari pandangannya sendiri. Jika sudah siap, segera buka diri untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dari pandangan orang lain.