Ini Kisah Mbok Cikrak, ‘Ibu’ Bagi TKI di Taiwan

0
397
Mbok Cikrak

Namanya Mbok Cikrak. Meski begitu, perempuan asal Kroya, Indramayu ini enggan menyebutkan nama aslinya. Mbok Cikrak biasa tampil dengan dandanan full make up dan tatanan rambut berwarna. Di kalangan ratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan, Mbok Cikrak sudah sangat akrab di telinga mereka.

Saat ini, Mbok Cikrak telah menjadi ‘bos tiketing’ yang khusus melayani pekerja migran asal Indonesia. Bahkan sudah 10 tahun juga ia membantu para TKI di Bandara Taouyan untuk mengurus segala macam hal keperluan pahlawan devisa yang akan pulang ke Tanah Air.

Katanya, banyak tenaga kerja Indonesia yang menjadi sasaran agen  kurang bertanggung jawab saat akan kembali ke Tanah Air. Beberapa kali ia menemukan sesama orang Indonesia terlantar begitu saja di bandara. Rata-rata diantara mereka tak tahu apa yang dilakukan, yang lainnya bahkan tertipu dengan tiket pulang.

BACA JUGA :

Tak Sekedar Pencitraan, Agnez Mo dan Sheila on 7 Ajak Peduli Bom Surabaya

Ini yang Harus Dilakukan Saat Mendapat Ancaman Bom

Tips Melakukan Hubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan

Kisah Mbok Cikrak berpetualang di negeri orang bermula saat ia menginjak usia 18 tahun. Keadaan ekonomi yang tidak terpenuhi, mengharuskan Mbok mencari nafkah dan bekerja ke negeri orang. “Saya dulu dateng sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga), “ujarnya.

Mbok Cikrak sendiri mengaku tak memiliki pengalaman buruk selama bekerja sebagai PRT. Bahkan dirinya telah dipersunting oleh lelaki lokal Taiwan dan kini membantu mengurus bisnis travel milik suaminya tersebut. Dari situ cerita bermula,  Ia pernah diberi label ‘calo bandara’ karena keaktifannya mengurus para tenaga kerja. Tapi Mbok memilih tutup telinga, Ia mengaku tetap membantu dan ikhlas bekerja.

Secara aktif Mbok menerangkan mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebelum pulang ke Indonesia. “ Misalnya yang tidak boleh itu, TKI membawa alat elektronik seperti senter, raket listrik, kipas angin ke Indonesia hanya dengan tas saja harus dengan cargo,” ujarnya.

Bukan hanya aktif woro-woro di Bandara Taouyan, Taiawan, Mbok Cikrak juga menggunakan metode baru dalam berbagi pengalaman dan masukkan dengan para TKI yang hilang arah. Mbok Cikrak memanfaatkan hampir semua platform media sosial mulai dari Facebook, Youtube hingga Bigo Live.

“Iya aku sering di Bigo. Jadi mereka tanya dan aku bisa langsung jawab, kasih saran. Pokoknya memanfaatkan apa yang ada,” kata dari ibu dari dua anak itu.

Dari Bigo, Mbok bisa mendulang sekitar Rp 15 juta per bulan. Uang tersebut belum termasuk usaha kosmetik yang dijalankan Mbok Cikrak.  Pundi-pundi rupiah tak dimasukkan semua ke kantong pribadinya. Melalui yayasan, Mbok membantu kehidupan sekitar 200 anak yatim.

Sampai sekarang Mbok terus membantu pekerja migran dan doyan berbagi tips untuk para pekerja yang saat ini berada di luar negeri. Mulia sekali ya hati Mbok Cikrak ini….salut Mbok !

Penulis  : Rani Ayu Utami

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here