Upaya Pemerintah Mengurangi Tingginya Angka Pernikahan Pada Anak Dibawah Umur

0
881

Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan tentang perkawinan anak dibawah umur. Nyatanya, menikah di usia belia akan mempengaruhi psikologis atau mental sang anak. Karena, dimana hak seorang anak yang seharusnya belajar, bermain, berkreasi, telah direnggut dengan adanya pernikahan.

Pada usia yang belum cukup umur, anak pun belum siap secara mental untu menghadapi polemik yang ada di dalam rumah tangga. Dan diyakini bakal memperpanjang rantai kemiskinan.Melihat hal itu, Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, mengaku sangat prihatin melihat tingginya angka pernikahan usia anak di tanah air.

BACA JUGA :

Kapan Seharusnya Anak Mulai Tidur Sendiri ?

Bersih-Bersih Jakarta bersama Institut Francais Indonesia

“Kondisi pernikahan usia anak di Indonesia semakin memprihatinkan bahkan sudah menuju darurat. Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk memutus mata rantai pernikahan usia anak termasuk keluarga, masyarakat, pemerintah, dan rekan-rekan media khususnya sebagai wadah penyebaran informasi secara massal,” kata Menteri Yohana saat ditemui di Diskusi Media “Perkawinan Usia Anak” di Hotel Millenium, Jakarta, pada tanggal 6 agustus 2018 kemarin.

Adanya permasalahan tersebut, Yohana tengah mendorong revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan. Dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa pernikahan hanya diizinkan jika laki-laki sudah mencapai usia 19 tahun dan perempuan sudah mencapai umur 16 tahun, serta memenuhi syarat pernikahan.

Selain mendorong revisi undang-undang, Kementerian PPPA telah menginisiasi beberapa strategi, diantaranya yaitu penyusunan kebijakan nasional tentang pencegahan pernikahan anak, penyusunan rencana menaikkan batas usia pernikahan dan Kampanye “Stop Pernikahan Anak” sejak 2016.

Penulis : Rani Ayu Utami

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here