Kisah Tak Biasa Nadia Murad sebelum Raih Nobel Perdamaian

0
815
Foto : Instagram/nobelprize_org itjeher.com

Nadia Murad adalah aktivis hak asasi manusia Yazidi yang baru saja raih Nobel Perdamaian 2018. Penghargaan ini diraihnya setelah menjalankan berbagai upaya untuk mengakhiri penggunaan kekerasan seksual dalam situasi perang dan konflik bersenjata.

Menjalani peran sebagai aktivis, ia ternyata punya latar belakang kisah yang tak biasa sebelum berkecimpung dalam isu yang kini diperjuangkan. Nadia pernah menjadi budak seks kelompok radikal ISIS.

Ia diculik oleh militan ISIS mulai tahun 2014 dan mengalami kekerasan seksual berkali-kali sejak saat itu. Berlangsung selama tiga bulan sebelum akhirnya ia berhasil melarikan diri, peristiwa ini tentu meninggalkan trauma mendalam baginya.

BACA JUGA :

The Beauty of West Kutai Menampilkan Tenun Doyo & Sulam Tumpar

Bulu Tangkis Indonesia mendapat Medali Emas Pertama di Asian Para Games 2018

Warna Kuning yang Menghiasi Peragaan Busana Dunia

Nadia Murad tak sendiri, ada ribuan perempuan Yazidi diculik dan mengalami penganiayaan seksual di tahun yang sama. Semua tentu mengalami trauma berat dan kebanyakan sulit untuk menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya.

Keberanian Nadia Murad untuk tak henti berkampanye menyerukan dunia agar mengambil langkah tegas untuk menghentikan kekerasan seksual terutama dalam situasi perang dipuji sebagai aksi yang sangat berani dan heroik. Nobel ini ia sampaikan untukĀ  orang-orang pada isu yang diperjuangkannya, bahwa ada harapan suara memohon perdamaian ini didengar oleh dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here