Jika Penderita Bipolar Menghadapi Kehamilan

0
985
Bipolar Foto : Pexels itjeher.com

Perempuan yang harus menghadapi masalah gangguan mental bipolar dihadapkan dengan keputusan yang sulit tentang bagaimana caranya tetap menjalani pengobatan selama masa kehamilan. Gangguan yang menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem ini memang biasanya ditangani dengan pemakaian obat-obatan yang kebanyakan berbahaya untuk janin yang ada di dalam kandungan.

Sementara jika pengobatannya dihentikan, maka berpotensi memicu masalah depresi penderita. Namun menurut psikiater Catherine Birndorf, MD yang merupakan kepala dari Payne Whitney’s Program di Rumah Sakit Presbyterian New York, ternyata tidak ada jawaban pasti haruskah penderita menghentikan pengobatan selama masa kehamilan. Karena dampak dan ketahanan tubuh seseorang berbeda-beda, sehingga tidak ada patokan standar dan semuanya akan lebih baik jika ditentukan secara individual sesuai rekomendasi dokter dan psikiater yang menangani.

BACA JUGA :

Ini Bahaya Terlalu Banyak Duduk

Resep Sehat Khloe Kardashian Sebelum Berolahraga

Predikat Jam Tidur Paling Sedikit Dipegang Orang Jepang

Masalah yang kemudian muncul adalah setelah usai masa kehamilan, yang mengalami gangguan bipolar memiliki potensi terkena postpartum depression atau depresi paska melahirkan yang sangat tinggi. Postpartum depression yang dirasakan bahkan bisa lebih buruk daripada keadaan penderita sebelumnya.

Tapi bukan berarti postpartum depression yang dialami penderita bipolar ini tidak bisa dirawat. Episode ekstrem masih bisa dihindari lewat pengobatan. Yang terpenting adalah persiapan rencana khusus untuk menghadapinya. Dunia medis bahkan menyarankan untuk melakukan pencegahan dengan menjalani pengobatan bahkan sebelum melahirkan. Selain itu dukungan penuh dari orang terdekat seperti keluarga tentu jadi fondasi utama yang harus dipastikan bahkan sebelum kehamilan terjadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here